JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat (AS) telah menembus level baru sebesar Rp 14.900/US$. Sedangkan, di RAPBN 2019 ditetapkan Rp 14.400/ US$.
Hal ini menjadi pertanyaan bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pasalnya kurs dalam nota keuangan tidak sesuai dengan kondisi rupiah saat ini yang semakin anjlok.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa kondisi saat ini dengan saat penetapan nilai tukar di RAPBN 2019 itu berbeda. Dia menjelaskan, apa yang dibacakan dalam nota keuangan telah disusun sejak Juli 2018 dan belum ada tekanan dari negara emerging market seperti Turki dan Argentina saat ini.
Dia menilai, pada Juli kondisi global belum seperti saat ini sehingga BI setuju dengan penetapan tersebut.
"Waktu kami harus cetak nota keuangan bulan Juli terjadi turbulensi luar biasa. Kita semua disini bicara dengan data yang sama dan kita lihat kemarin. Pertama trigger Juli growth impor kita melonjak tinggi makanya muncul trade account dan current account kita negatif," ujarnya di Gedung Badan Anggaran, Jakarta, Selasa (4/9/2018).
Menurutnya, krisis yang terjadi negara emerging market di Turki dan Argentina sangat memukul kondisi nilai tukar rupiah. Bahkan hal ini tidak hanya terjadi pada Indonesia tapi hampir semua mata uang di Asia tertekan sehingga ini adalah sesatu yang membuat kaget.
"Buat kita ini merupakan kejutan. Sentimen itu ditambah global environment Argentina masuk IMF dan Turki juga seperti itu. Ini perfect storm," tegasnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menegaskan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda sehingga akan ada pembahasan lagi dengan BI jika memang diharuskan untuk diubah.
"Sehingga yang kita bahas dengan dewan waktu itu kita optimis yang kita sampaikan di sini dan anggota dewan semua paling tidak memahami kita melihat dinamika bergerak dan berubah," imbuhnya.
Selain itu, dia meyakinkan anggota Dewan bahwa tahun depan tekanan akan berkurang.
"Sekarang Rp 14.400 yang kita udah baca dan sekarang kondisinya kita lihat Rp 14.700. Kita akan lihat Gubernur BI mengatakan tahun depan faktor-faktor yang menjadi penekan mungkin lebih ringan."
"Buat kita ini merupakan kejutan. Sentimen itu ditambah global environment Argentina masuk IMF dan Turki juga seperti itu. Ini perfect storm," tegasnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menegaskan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda sehingga akan ada pembahasan lagi dengan BI jika memang diharuskan untuk diubah.
"Sehingga yang kita bahas dengan dewan waktu itu kita optimis yang kita sampaikan di sini dan anggota dewan semua paling tidak memahami kita melihat dinamika bergerak dan berubah," imbuhnya.
Selain itu, dia meyakinkan anggota Dewan bahwa tahun depan tekanan akan berkurang.
"Sekarang Rp 14.400 yang kita udah baca dan sekarang kondisinya kita lihat Rp 14.700. Kita akan lihat Gubernur BI mengatakan tahun depan faktor-faktor yang menjadi penekan mungkin lebih ringan."